
Gresik – Gresik memang pantas menerima pigam Adi Wiyata dibidang pendidikan dari presiden Ri Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Betapa tidak, tingkat kelulusan siswa SMU di Gresik mencapai 99,99%.
Dari ribuan siswa SMA yang ikut Unas 2008, yang tidak lulus hanya 8 (delapan) siswa. Ini juga memperbaiki rekor Unas 2007 saat siswa yang tidak lulus mencapai 27 siswa.
Kedelapan siswa yang tidak lulus, empat siswa SMA Al Furkon Driyorejo, dua siswa SMA Islamiyah Tambah, seorang siswa SMA NU 3 Gempol Benjeng dan seorang siswa SMA Sunan Giri juga karena nilai geografi.
Tak hanya itu, di bidang bahasa dalam Unas 2008 ini SMA Negeri 1 Manyar, Gresik meraih nilai rata-rata terbaik se- Jawa Timur, dan SMA Negeri 1 Gresik meraih nilai UN terbaik ketiga bidang IPA (Ilmu pengetahuan Alam) .
Pelajar SMA Kabupaten Gresik juga berhasil masuk 10 besar bidang IPA dan Bahasa. Untuk bidang Bahasa, Silvie Rizki Amalia siswa SMA Negeri 1 Manyar menjadi yang terbaik di Jawa Timur dengan torehan nilai 54,60.
Selain Silvie Rizki Amalia, pelajar SMA Negeri 1 Manyar juga meloloskan empat siswa menjadi lima besar terbaik se Jatim.
“Ini prestasi yang membangakan bagi Gresik. Ini hasil kerja keras semua pihak. Terima kasih,” kata Kepala Dinas pendidikan, Kabupaten Gresik, Chusaini Mustas, Sabtu (14/6/2008).
Di tengah prestasi menggembirakan itu, belasan siswa SMU di Gresik nampak menggelar konvoi untuk merayakan kelulsan meeka. Rombongan sekitar 50 sepeda motor ini sempat menutup jalan dari Panglima Sudirman ke Jaksa Agung.(ard/bj0)
dicuplik dari www.beritajatim.com
September 12, 2008 pukul 1:59 pm
turut berduka cita buat mantan guruku..
bu miftahul romlah hari sabtu 6 september 2008
semoga amal ibadah beliau diterima oleh allah SWt.
amien..
September 12, 2008 pukul 2:01 pm
senengnya kalo sma n 1 manyar lulus 100%
dulu tahunku merupakan awal dimana ditetapkan nilai 3,0
syukur alhamdulillah.. semuanya bisa lulus!!!
Oktober 22, 2008 pukul 6:20 am
mohon ungkapan mantan guru tidak dipakai karna mantan guru atau ungkapan kepada seseorang yang pernah mengajar kita kapanpun dan keadaan bagaimanapun yang namanya guru tetaplah guru dari dulu sampai sekarang kalangan muslim tidak mengenal istilah mantan guru.